Tatanama Senyawa

  1. A.      Rumus Kimia

    Rumus kimia zat menyatakan jenis dan jumlah relatif atom-atom yang terdapat dalam zat itu. Angka yang menyatakan jumlah atom suatu unsur dalam rumus kimia disebut angka indeks. Rumus kimia zat dapat berupa rumus molekul atau rumus empiris.

    1. Rumus Molekul

    Rumus kimia zat menyatakan jenis dan jumlah relatif atom-atom yang terdapat dalam zat itu. Angka yang menyatakan jumlah atom suatu unsur dalam rumus kimia disebut angka indeks. Rumus kimia zat dapat berupa rumus molekul atau rumus empiris

    Contoh:

    a.    Rumus molekul air yaitu H2O yang berarti dalam satu molekul air terdapat dua atom hidrogen dan satu atom oksigen.

    b.    Rumus molekul glukosa C6H12O6 yang berarti dalam satu molekul glukosa terdapat 6 atom karbon, 12 atom hidrogen, dan 6 atom oksigen.

    2. Rumus Empiris

    Rumus empiris adalah rumus yang menyatakan perbandingan terkecil atom-atom dari unsur-unsur yang menyusun suatu senyawa. Rumus kimia senyawa ion merupakan rumus empiris.

    Contoh:

    a.        Natrium klorida merupakan senyawa ion yang terdiri atas ion Na+ dan ion Cl– dengan perbandingan 1 : 1. Rumus kimia natrium klorida NaCl.

    b.      Kalsium klorida merupakan senyawa ion yang terdiri atas ion Ca2+ dan ion Cl– dengan perbandingan 2 : 1. Rumus kimia kalsium klorida CaCl2.

    Pada kondisi kamar, sebagian unsur-unsur ada yang membentuk molekul-molekul. Rumus kimia unsur-unsur semacam ini tidak digambarkan hanya dengan lambang unsurnya, melainkan unsur beserta jumlah atom yang membentuk molekul unsur tersebut.

    Contoh:

    1. Rumus kimia gas oksigen yaitu O2, berarti rumus kimia gas oksigen terdiri atas molekul-molekul oksigen yang dibangun oleh dua atom oksigen.
    2. Rumus kimia fosfor yaitu P4, berarti rumus kimia unsur fosfor terdiri atas molekul-molekul fosfor yang tiap molekulnya dibentuk dari empat buah atom fosfor.

    Semua senyawa mempunyai rumus empiris. Senyawa molekul mempunyai rumus molekul selain rumus empiris. Pada banyak senyawa, rumus molekul sama dengan rumus empirisnya. Senyawa ion hanya mempunyai rumus empiris. Jadi, semua senyawa yang mempunyai rumus molekul, pasti memiliki rumus empiris. Namun, senyawa yang memiliki rumus empiris, belum tentu mempunyai rumus molekul.

    Contoh:

    Keterangan:

    y : massa unsur dibagi dengan Ar

    x : dikalikan dengan hasil perbandingan dengan Mr rumus molekul dan Mr rumus empiris

    B.     Tata nama senyawa anorganik

1.Penamaan Senyawa Biner Ionik

Untuk penamaan senyawa biner ionik yang dibentuk dari satu unsur logam dan satu unsur bukan logam, mula-mula dituliskan nama logam tanpa modifikasi dan diikuti dengan penamaan unsur bukan logam melalui pemberian akhiran ‘ida’.

  • KCl : Kalium klorida
  • MgF2 : Magnesium fluorida
  • KO : Kalium oksida

2. Penamaan Senyawa Biner Kovalen

Penamaan senyawa biner kovalen yang terdiri dari unsur non-logam dengan unsur non-logam, mula-mula dituliskan unsur dengan bilangan oksidasi positif. Misalnya kita tuliskan HCl bukannya CIH. Penamaan dilakukan dengan dasar pemberian awal yang menyatakan jumlah relatif tiap jenis atom dalam sebuah molekul pemberian awalan dengan mempergunakan

Mono         = 1                               hepta               = 7

di (bis)       = 2                               okta                 = 8

tri (tris)      = 3                               ona                  = 9

tetra           = 4                               deka                =10

penta         = 5                               undeka            =11

heksa         =6                                dodeka            =12

Awalan yang berada dalam kurung kini jarang dipergunakan dan lebih banyak dipaka dalam penamaan senyawa kompleks. Jadi untuk dua oksida utama belerang dapat kita tulis

S02 : belerang dioksida atau berdasarkan sistem stock : belerang (IV) oksida

SO, belerang trioksida atau berdasarkan sistem stock : belerang (VI) oksida

Sistem awalan dapat menunjukkan hubungan antara nama dan rumus dengan tepat, sedangkan sistem stock ternyata tak selalu dapat menampakkan hubungan nama dan rumus.

contoh

  • BCl3     =Boron triklorida Boron (III) klorida
  • CF4     =Karbon tetrafluorida Karbon (IV) fluorida
  • CO      =Karbon monooksida Karbon (II) oksida
  • N2O3    =Dinitrogen trioksida Nitrogen (III) oksida
  • SF6     =Sulfor heksafluorida Sulfor (VI) fluorida

3. Penamaan Asam-asam Biner

Ada segolongan senyawa biner kovalen yang dalam keadaan tertentu dapat melepaskan ion-ion hidrogen (H+) sehingga senyawa tersebut dikenal sebagai suatu ‘asam’. Asam-asam biner penting sangat terbatas jumlahnya. Penamaannya berdasarkan gabungan dari awalan ‘hidro’ dengan nama bukan logam yang diberi akhiran ‘at’.

Contoh:

  • HF asam hidrofluorat (asam fluorida)
  • HBr asam hidrobromat (asam bromat)
  • H2S asam hidrosulforat (asam sulfida)

4.Penamaan Senyawa Poliatomik

Senyawa poliatomik merupakan senyawa yang mengandung ion poliatomik. Ion poliatomik terdiri dari dua atom atau lebih yang terikat bersama. Anion poliatomik umumnya lebih banyak dibandingkan dengan jenis kation pliatomik. Unsur yang banyak terdapat pada anion pliatomik adalah oksigen. Oksigen yang terikat dengan atom bukan logam lainnyadisebut oksoanion.. Sejumlah unsur tertentu membentuk deret oksoanion yang mengandung jumlah atom oksigen yang berbeda-beda. Tabel kation dan anion :

Tabel Anion

No Rumus Nama Ion No Rumus Nama Ion
1 NH4+ Amonium 19 AsO33- Arsenit
2 O2- Oksida 20 AsO43- Arsenat
3 F- Florida 21 SbO33- Antimonit
4 Cl- Klorida 22 SbO43- Antimonat
5 Br- Bromida 23 ClO- Hipoklorit
6 I- Iodida 24 ClO2- Klorit
7 CN- Sianida 25 ClO3- Klorat
8 S2- Sulfida 26 ClO4- Perklorat
9 CO32- Karbonat 27 MnO4- Permanganat
10 SiO32- Silikat 28 MnO42- Manganat
11 C2O42- Oksalat 29 CrO42- Kromat
12 CH3COO/C2H3O2- Asetat 30 Cr2O72- Dikromat
13 SO32- Sulfit 31 OH- Hidroksida
14 SO42- Sulfat 32 HSO3- Bisulfit
15 NO2- Nitrit 33 HPO42- Hidrogen Fosfat
16 NO3- Nitrat 34 H2PO4- Dihidrogen Fosfat
17 PO33- Fosfit 35 BO33- Borat
18 PO43- Fosfat

Tabel Kation

No Rumus Nama Ion No Rumus Nama Ion
1 Na+ Natrium 13 Pb2+ Plumbum/Timbal (II)
2 K+ Kalium 14 Pb4+ Plumbum/Timbal (IV)
3 Mg2+ Magnesium 15 Fe2+ Ferrum/Besi (II)
4 Ca2+ Kalsium 16 Fe3+ Ferrum/Besi (III)
5 Sr2+ Stronsium 17 Hg+ Hidrargium/Raksa (I)
6 Ba2+ Barium 18 Hg2+ Hidrargium/Raksa (II)
7 Al3+ Alumunium 19 Cu+ Cupper/Tembaga (I)
8 Zn2+ Zink / Seng 20 Cu2+ Cupper/Tembaga (II)
9 Ni2+ Nikel 21 Au+ Aurum/Emas (I)
10 Ag2+ Argentum / Perak 22 Au3+ Aurum/Emas (III)
11 Sn2+ Stanum/Timah (II) 23 Pt4+ Platina (IV)
12 Sn4+ Stanum/Timah (IV)

Penamaan senyawa poliatom bergantung pada muatan masing-masing ionnya.

Contohnya

  • CaCO3:  Kalsium Karbonat
  • BaSO4 : Barium Sulfat
  1. C.         Tata Nama Senyawa Organik

Tata nama senyawa organik lebih kompleks daripada tata nama senyawaanorganik. Hal ini disebabkan sebagian besar senyawa organik tidak dapat ditentukandari rumus kimianya saja, akan tetapi harus dari rumus strukturnya. Jumlah senyawaorganik lebih banyak dibandingkan senyawa anorganik.

1.Senyawa organik paling sederhana hanya mengandung atom C dan H. Nama senyawa dimulai dengan awalan sesuai jumlah atom C dan diberi akhiran –ana.

Contoh = CH4 (metana)

C2H6 (etana)

2.Senyawa organik penting lainnya ialah benzen (C 6 H 6 ). Penamaan senyawa jika atom H diganti dengan atom/gugus lainnya.

Contoh = C6H5OH (fenol)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s